billfath.ac.id
  • 25 Jan 2022 13:05

ORASI ILMIAH

WISUDA KE I PROGRAM SARJANA

TAHUN AKADEMIK 2021-2022

UNIVERSITAS BILLFATH

LAMONGAN – JAWA TIMUR

 

New normal society: tantangan Lulusan Universitas Billfath yg profesional dan berkarakter santri.

 

Oleh : Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, Amd.Hyp, ST, M.Kes. IPU.Asean.Eng

Department of Industrial Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya, Malang 65145, Indonesia.

BISMILLAH

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Yth. Rektor UNIVERSITAS BILLFATH

Yth. Anggota Senat UNIVERSITAS BILLFATH

Yth. para pimpinan lingkungan UNIVERSITAS BILLFATH

Yth. para sivitas akademika Sekolah UNIVERSITAS BILLFATH

Yth. para undangan dan hadirin lainnya

 

Para hadirin yang saya hormati.

            Dalam memasuki era New Normal Society karakter santri merupakan karakter sosial keagamaan (Islam) yang dibentuk guna memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat di sekitarnya. Eksistensi karater santri sendiri tidak bisa terlepas dari kepercayaan publik yang secara langsung menjadi user para lulusannya. Universitas Billfath akan eksis (survive) apabila mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Fenomena meningkatnya animo masyarakat untuk mempercayakan putra-putrinya menempuh pendidikan di perguruan tinggi pesantren menjadi tantangan baru bagi pengelola Universitas Billfath, di satu sisi bagaimana menjamin lulusan bermutu sesuai kualifikasi keilmuannya, dan di sisi lain bagaimana mencetak lulusan yang memiliki karakter khas sebagai alumni pondok pesantren. Karena tidak semua yang menempuh pendidikan tinggi di pesantren adalah lulusan SLTA keagamaan, maka penyelenggaraan pendidikan tinggi khusus bagi mahasiswa yang belum memiliki basic ilmu keagamaan yang cukup dirasa penting untuk dilaksanakan jika dijalankan dengan profesional dalam membentuk mahasiswa yang berkarakter santri. Hal ini guna tetap menjamin kualitas pengetahuan agama bagi alumni perguruan tinggi. Atas dasar inilah kemudian digagas berdirinya Universitas Billfath, sebuah madrasah khusus bagi mahasiswa Universitas Billfath yang memiliki latar belakang pendidikan umum serta kurang memahami pendidikan agama dan ilmu umum. Secara intensif mahasiswa mendapatkan bekal pendidikan ilmu-ilmu keagamaan selama empat tahun, yang juga menenentukan terhadap kelulusan mereka di perguruan tinggi dalam menyambut New Normal Sociaety.   

            Kondisi new normal sudah banyak digaungkan, termasuk juga oleh Indonesia. Tidak bisa disamakan dengan kondisi “bebas virus corona,” tetapi new normal menjadi harapan baru untuk menyesuaikan kehidupan di tengah pandemi dengan langkah yang lebih mantap.

Gaya Hidup

            Dalam beraktivitas sehari-hari di kondisi new normal, masyarakat akan lebih waspada dalam melakukan kontak fisik. Langkah-langkah preventif seperti menggunakan masker ketika bepergian dan menjaga jarak dengan orang lain akan menjadi norma masyarakat yang baru. Bukan hanya semata-mata untuk mengurangi risiko transmisi virus corona saja, tetapi juga menjadi sebuah bentuk kesadaran untuk menjaga kesehatan.

            Kemudian, masyarakat akan lebih terbiasa untuk mencuci tangan secara rutin dengan sabun selama kurang lebih 20 detik dan selalu membersihkan barang-barang yang tersentuh banyak orang, seperti misalnya gagang pintu, meja di restoran, dan smartphone. Tempat-tempat publik yang biasanya dipenuhi pengunjung juga akan lebih terbiasa dalam melakukan pengecekan suhu untuk memastikan tidak ada orang sakit yang masuk.

            Satu lagi yang menjadi perubahan signifikan dalam gaya hidup masyarakat di era new normal, yakni pelacakan aktivitas yang dilakukan pemerintah. Seperti yang sudah diterapkan di negara Thailand dengan aplikasi “Thai Chana” yang mengharuskan warga untuk melakukan check-in dan check-out sebelum memasuki tempat publik.

Pembangunan Infrastruktur

            Penanganan COVID-19 yang sudah dilakukan selama beberapa bulan belakangan ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur negara masih belum cukup siap untuk menghadapi pandemi secara efektif. Dibutuhkan pembangunan infrastruktur yang merata agar negara dapat mempersiapkan diri memulai new normal dan nantinya bisa lebih sigap lagi ketika ada second wave atau krisis serupa.

            Apa saja yang mencangkup pembangunan infrastruktur? Beberapa contohnya yang disampaikan oleh Prof. Kiyota Hashimoto adalah peningkatan kapasitas layanan kesehatan, proses belajar mengajar di sekolah maupun perguruan tinggi, dan kesiapan lembaga pemerintah dalam penanganan krisis seperti pandemi.

            Pelayanan medis harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan yang memadai untuk segala jenis penyakit, termasuk juga COVID-19. Kemudian, mulai fokus dalam mengembangkan pelayanan yang lebih terjangkau dan lebih praktis, seperti misalnya telemedicine untuk penanganan pasien jarak jauh.

            Adanya pandemi juga membukakan pintu bagi dunia pendidikan untuk melakukan evaluasi, apakah proses belajar mengajar yang selama ini diterapkan sudah cukup atau masih perlu diperbaiki. Saatnya untuk mulai menggabungkan pembelajaran di dalam kelas dengan online learning, bahkan ketika sudah memasuki new normal atau real normal (post-pandemic era).

            Perihal tindakan yang bisa dilakukan oleh pemerintah, dapat membentuk sebuah gugus tugas seperti Center for Commutable Diseases sebagai penasehat, selayaknya yang sudah dimiliki oleh beberapa negara. Sebarkan informasi terkini mengenai perkembangan COVID-19 ke ranah publik untuk mencegah penyebaran berita palsu atau hoax.

Pengetahuan dan teknologi

            Pandemi COVID-19 menyebabkan semua orang untuk beraktivitas dari dalam rumah. Hal ini menjadi mungkin karena adanya teknologi, di mana sudah banyak orang yang memiliki akses internet dan punya pengetahuan bagaimana cara memanfaatkan teknologi yang ada. Maka dari itu, new normal menjadi momen yang tepat untuk berbenah diri dalam aspek ICT.

            Dimulai dari pendidikan, yakni dengan mengajarkan keterampilan IT sejak bangku sekolah. Dengan begitu, generasi ke depannya menjadi generasi yang melek teknologi. Kemudian, mengimplementasikan ICT secara masif dalam berbagai aspek kehidupan. Sebut saja data science, AI, Internet of Things, dan robust system.

            Pembaruan teknologi ini meliputi apa saja yang bisa diproduksi, proses produksi, lokasi, infrastruktur, serta hukum dan ketentuan yang diberlakukan. Bisa dikatakan, kondisi new normal akan mengubah dunia secara total dalam aspek penerapan teknologi

Pondok Pesantren Al Fattah yang didirikan sejak tahun 1942, sudah  menyadari arti penting pendidikan pribadi berkarakter dan berkompetensi sebagai kunci kemajuan  umat Islam, bangsa dan negara Indonesia. Sesuai dinamika zaman, Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah  sudah mengembangkan beberapa lembaga pendidikan yang tujuan utamanya adalah membentuk sumber daya manusia yang beriman, berislam, berakhlak mulia dan mempunyai kompetensi yang bermanfaat bagi masyarakat yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman ahlussunah wal jamaah, kepesantrenan, dan  keindonesiaan.

 

Ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin  maju  dan  masyarakat semakin membutuhkan  sumber daya manusia yang semakin tinggi kualitasnya, maka Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah mendirikan  Universitas Billfath. Universitas Billfath diharapkan dapat menjadi wadah pengembangan pribadi unggul dalam bidang keilmuan, keterampilan, dan kepribadian serta pengabdian masyarakat. Semua itu harus dijiwai oleh nilai-nilai keislaman ahlussunah wal jamaah dan  keindonesiaan.  Apabila misi tersebut dapat dijalankan secara istiqomah, maka cita-cita memajukan peradaban, kemakmuran, dan keadilan sosial akan mudah diraih, sebagaimana yang dicita-citakan oleh K.H. Abdul Fattah,  pendiri Pondok Pesantren Al Fattah.

 

Universitas Billfath didirikan pada tahun 2016 oleh Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah Siman Lamongan dengan SK MENRISTEKDIKTI Nomor: 426/KPT/1/2016 pada tanggal 23 September 2016. Sejak berdiri sampai saat ini, Universitas Billfath memiliki 4 (empat) fakultas, yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetaghuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Hukum (FH). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) terdiri atas 3 (tiga) program studi, yaitu Pendidikan Kimia, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Bahasa Inggris.

 

abad  ke-21 yang kini tengah kita alami, sebagaiman telah dikaji para ahli telah menimbulkan tantangan yang berdampak pada terjadinya krisis di bidang karakter. Daniel Bell sebagaimana dikutip Mochtar Buchori menyebutkan adanya enam tantangan di abad ke-21; yaitu integration of economy, fragmentation of politic, interdependence, high technologi, dan new colonization in culture.[1] Keenam tantangan yang ditimbulkan abad ke-21 ini baik langsung atau tidak langsung berdampak pada terjadinya krisis di bidang karakter. Integration of economy (penyatuan dalam perdagangan), menyebabkan timbulnya free market (pasar bebas) yang penuh dengan persaingan yang  tidak sehat. Dalam rangka memperebutkan pasar, perilaku ekonomi bisa menghalalkan segala cara, seperti riba (membungakan uang secara tidak wajar), ghurur (menipu), maysir (judi-spekulasi), penguasaan atas aset dan kesempatan  (monopoli) yang mematikan kelompok pengusaha kecil;  menimbun barang agar terjadi ketimpangan antara suplay dan demand yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga barang dan jasa secara tidak wajar, dan sebagainya. Selanjutnya fragmentation of  politic dalam rangka menuntut perlakuan yang lebih demokratis, adil, manusiawi dan egaliter, terkadang menimbulkan demokrasi yang kebablasan dan tindakan anarkhisme. Sementara itu interdependence (kesaling-tergantungan) dalam rangka mendapatkan pengakuan dari negara lain (social recognition), terkadang menimbulkan dampak terjadinya hegemoni negara yang kuat atas negara yang lemah. Dalam pada itu, penggunaan high technology  berupa komputer dan digital technologi terkadang disalah-gunakan untuk memprovokasi, memfitnah, adu domba, membunuh karakter, dan sebagainya. Sementara itu,  adanya new colonization in culture (penjajahan baru di bidang kebudayaan) menyebabkan terjadinya dekadensi moral atau schock culture, terutama di kalangan young generation (generasi muda). Pola dan pandangan hidup yang pragmatis, transaksional, hedonistik, materialistik dan sekularistik, menyebabkan masyarakat hatinya menjadi keras, kurang tertarik pada nilai-nilai spiritual dan cenderung mengikuti gaya dan selera hidup yang menggumbar syahwat, dan untuk mendapatkan semua itu bisa menghalalkan segala cara.

Mahasiswa adalah orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi Negeri maupun swasta. Mahasiswa merupakan calon pemimpin (potential leaders) generasi masa depan. Mahasiswa perlu merubah mindset lebih baik, jiwa, kepribadian dan sosial serta kesehatan mental kuat. Seorang mahasiswa bisa mengatasi masalah-masalah sulit, selalu menanamkan positif thinking pada dirinya dan orang lain. Tidak mudah putus asa dalam menghdapai tantangn dan hambatan yang menerpa serta tidak mudah mengeluh pada keadaan dirinya.

Kedudukan mahasiswa memiliki posisi teristimewa di masyarakat terutama perannya menjadi agen perubahan (agent of change) dalam berbgai bidang. Ciri khas mahasiswa adalah berfikir kritis dan berfikir analisa sebelum melangkah. Meskipun hard skill atau nilai akademik unggul, melainkan soft skill lebih penting dalam sosialisasi, kolaborasi, dan komunikasi serta berkontribusi nyata.

 

Gambar 1. Kesiapan era society perguruan tinggi

 

Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 mengamanatkan setiap dosen wajib membuat jurnal ilmiah dan dipublikasikan di Jurnal Internasional bereputasi minimal sekali dalam setahun, sedangkan profesor dua tahun sekali. Jika tak mampu memenuhi amanat tersebut, tunjangan dosen dan tunjangan profesornya akan ditinjau ulang. Sehingga mahasiswa S2 dan S3 akan memiliki semangat untuk berpublikasi terideks secara internasional, juga berkontribusi mendorong laju publikasi di Indonesia, karena Kemenristekdikti menargetkan 15.000 publikasi untuk tahun 2017. Berdasarkan data pada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) tahun 2017, jumlah unit perguruan tinggi yang terdaftar mencapai 4.504 unit. Angka ini didominasi oleh perguruan tinggi swasta (PTS) yang mencapai 3.136 unit. Sedangkan perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi unit paling sedikit, yakni 122 unit. Sisanya adalah perguruan tinggi agama dan perguruan tinggi di bawah kementerian atau lembaga negara dengan sistem kedinasan.

 

 

Para hadirin yang saya hormati.

 

Menghadapi society 5.0 dan pandemi Covid-19, lanjut Prof Aris, Dikti juga memberikan berbagai dukungan kepada dunia pendidikan dengan menyediakan platform untuk pembelajaran daring, bekerjasama dengan provider telekomunikasi untuk mengupayakan biaya internet terjangkau, memberikan kesempatan untuk menyelenggarakan program pengakuan kredit antara universitas melalui pembelajaran daring. Dikti juga terus memberikan pelatihan kepada dosen agar mampu menciptakan materi pembelajaran daring secara berkelanjutan. Di samping itu dukungan dikti juga dengan memanfaatkan Massive Open Online Course/MOOC’s internasional.

 

Perkembangan telekomunikasi di Indonesia telah memasuki babak baru dengan semakin pesatnya perkembangan industri teknologi informasi. Pertumbuhan pengguna layanan telekomunikasi dan pelanggan telepon khususnya untuk telepon bergerak juga semakin tinggi dengan semakin banyaknya aplikasi yang melekat pada perangkat telekomunikasi. Peran industri telekomunikasi dalam kehidupan masyarakat maupun perekonomian nasional sangat penting. Pertumbuhan sektor jasa telekomunikasi merupakan yang tertinggi dalam perekonomian nasional dibanding sektor lainnya. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat tidak dapat dipungkiri telah memberikan perubahan yang sangat mendasar dalam pengelolaan aktivitas bisnis. Jarak dan batas teritorial suatu negara tidak menjadi hambatan lagi dengan adanya teknologi telekomunikasi.

 

 

Dosen menjadi salah satu unsur terpenting di lingkungan perguruan tinggi. Keberadaan dosen sangat menentukan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan. Namun, sesekali bisa terjadi ketidakselarasan antara dosen dengan perguruan tinggi sehingga terkadang keduanya berjalan secara sendiri-sendiri. Pembinaan terhadap dosen menjadi sangat penting agar arah dan tujuan Perguruan Tinggi dapat tercapai. Oleh karenanya sangat diperlukan pembinaan kepada dosen, terutama para dosen muda yang masih memerlukan bimbingan dan arahan agar peran mereka dalam pencapaian cita-cita perguruan tinggi dapat lebih maksimal. “Dosen harus melaksanakan tugasnya secara profesional dalam arti yang sesungguhnya. Maksudnya adalah, disamping dosen itu mempunyai otonomi penuh dalam hal keilmuannya, dia juga harus didukung oleh beberapa syarat yang harus melekat di dalam diri mereka,” Salah satu poin penting bahwa dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, serta seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,”

 

 

Penguasaan riset unggulan ditujukan agar mampu mendukung transformasi dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis inovasi. Riset ini dibangun melalui jejaring unsur-unsur kelembagaan riset agar terbentuk rantai nilai (value chain) yang mampu menciptakan pembaruan dan pemanfaatan hasil ciptaan dan kebaruan riset ke dalam proses produksi barang dan jasa yang kompetitif. Mengacu pada tingkat kebutuhan (market-driven), tingkat ketergantungan pengguna, nilai ekonomis dan kemampuan iptek maka riset unggulan difokuskan kepada: smart card, fasilitasi industri kreatif, dan e-Desa.

 

Pemilihan riset unggulan TIK diharapkan dapat mengawal secara proaktif riset unggulan yang membutuhkan koordinasi, fasilitasi, monitoring dan evaluasi serta pengawalan. Untuk mensinergikan riset dengan industri diperlukan adanya pemilihan riset unggulan yang menjadi prioritas bidang TIK yang mampu menjadi penggerak ekonomi, inovasi, kemandirian dan daya saing bangsa, yaitu melalui pengembangan piranti TIK menuju internet of things dengan mengembangkan sains dan teknologi chips, smart devices, integrated Big Data, RFID (Radio Frequency Identification), serta teknologi dan ekosistem 5G. Pemilihan tema produk/riset yang terindikasi secara eksplisit di dalam RPJMN Buku I, RPJMN Buku II, serta ARN dilakukan secara desk study dan melalui diskusi pokja untuk mendapatkan  tema dan topik yang representatif untuk fokus riset Teknologi Informasi dan Komunikasi. Tema/topik riset yang didapatkan secara top-down, kemudian diintegrasikan dengan tema/topikriset yang bersifat bottom-up. Hasil integrasi untuk fokus riset Teknologi Informasi dan Komunikasi.

 

 

Gambar 2 Jenjang Pendidikan tinggi

 

Penyelarasan riset dari sepuluh bidang tersebut juga menuntut penyelarasan dan kerja sama yang bersifat multi-aktor. Artinya, diperlukan sinergi dari aktor pemerintah dan non pemerintah, termasuk swasta, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil. Untuk dapat memberikan kontribusi riil dan signifikan bagi realisasi strategi pembangunan nasional, kesadaran koordinasi lintas sektor dan juga lintas daerah (pusat-daerah dan antar daerah) menjadi satu keharusan.

 

Para hadirin yang saya hormati.

 

 

Pesantren dengan segala kekhasan yang ada di dalamnya, telah sukses menyelenggarakan pendidikan bagi pembinaan karakter bagi santri-santrinya. Pembinaan karakter pada santri di pesantren dapat berlangsung dengan maksimal disebabkan berbagai faktor;

Pertama, peran kyai. Kyai memiliki peran yang sangat komplek, diantaranya sebagai ulama, pendidik, pengasuh, orang tua, penghubung masyarakat, pengelola pesantren dan pemimpin tertinggi serta manajer yang

bagus. kyai menjadi tokoh teladan bagi santri-santrinya. Kyai memantau perkembangan jiwa dan karakter santri selalu.

Kedua, penyusunan kurikulum yang berorientasi pada karakter santri. Dimulai dari penyusunan struktur dan isi materi yang mengintegrasikan pengetahuan kedinasan dan keislaman. Pembimbingan dan pengawasan pada

sikap dan karakter santri dalam lingkungan pesantren. Serta penyelenggaraan kegiatan-kegiatan santri yang beragam sebagai media dan metode dalam pembinaan karakter santri.

 

5 karakter yang paling menonjol pada diri santri adalah kebersyukuran (gratitude), keadilan (fairness), kebaikaan hati (kindness), kewargaan (citizenship), dan harapan (hope). Hasil penelitian ini tak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa 5 karakter yang paling menonjol pada bangsa Indonesia adalah kebersyukuran (gratitude), kebaikaan hati (kindness), kewargaan (citizenship), keadilan (fairness), dan kejujuran (integrity). Dibanding dengan karakter bangsa Indonesia umumnya, karakter harapan (hope) santri lebih menonjol. Di sisi lain, karakter yang paling lemah pada santri adalah regulasi diri (se lf regulation), keberanian (bravery), kreativitas (creativity), keragaman sudut pandang (perspective), dan humor. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa karakter yang paling lemah adalah kreativitas (creativity), keberanian (bravery), regulasi diri (se lf regulation), cinta belajar (love o f learning), keragaman sudut pandang (perspective).

 

 

Dalam proses sinergis antar lembaga, peranan perguruan tinggi dalam mempersiapkan daya saing bangsa mengarungi era persaingan global sudah sangat urgency. Pada umumnya perguruan tinggi di negara ini telah tertinggal, bahkan terasing dari kebutuhan dan realitas sosial, ekonomi, serta budaya masyarakatnya. Perguruan tinggi memerlukan otonomi dan independensi untuk dapat memulihkan perannya itu keluar dari menara gading dan terlibat secara langsung sebagai agent of change dalam perubahan masyarakat. Memposisikan sebuah perguruan tinggi pada barisan perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik memerlukan perubahan yang fundamental sehingga mampu bersaing (better competitive situation). Sebuah perguruan tinggi harus memiliki strategic intent. Untuk mewujudkannya perlu dilakukan transformasi kelembagaan yang lebih kompleks dari sekadar pengembangan organisasi (organization development). Perguruan tinggi merupakan lembaga, dibangun

komunitas akademik yang bersifat kolegial, dan menjunjung tinggi academic value untuk mencerdaskan bangsa. Ini yang membedakannya dengan organisasi lain. Melakukan perubahan fundamental untuk dapat menghasilkan nilai-nilai akademik, sosial, dan ekonomi merupakan kata kunci dalam transformasi sebuah perguruan tinggi. Transformasi kelembagaan ini mencakup penyelarasan atau perancangan ulang dari strategi, struktur, sistem, stakeholder relation, staff, skills (competence), style of leadership, dan shared value. Upaya transformasi kelembagaan ini diharapkan dapat merevitalisasi peran perguruan tinggi agar mampu berperan secara optimal dalam mewujudkan academic excellence for education, for industrial relevance, for contribution for new knowledge, dan for empowerment.

 

Gambar 3. Data ketenagakerjaan menurut tingkat pendidikan, sumber : Badan Pusat Statistk

 

 

Keberhasilan transformasi perguruan tinggi adalah faktor kunci agar perguruan tinggi dapat berkiprah dalam kompetisi global. Restrukturisasi, rekonstruksi, reposisi, dan revitalisasi berbagai fungsi serta komponen organisasi diperlukan dalam proses transformasi ini. Secara garis besar, ada tiga prasyarat keberhasilan transformasi perguruan tinggi. Pertama, penyelarasan secara bertahap struktur kelembagaan (program dan sumber daya) dengan perilaku civitas akademikanya untuk mencapai kinerja yang ditargetkan (performance). Setiap anggota civitas akademika harus mempunyai komitmen terhadap target mutu, ketepatan waktu, dan efektivitas program. Kedua, orientasi proses akademik pada pelayanan dan kepuasan stakeholders. Ketiga, kemampuan untuk menerapkan management best practice dalam pengelolaan dan pengembangan perguruan tinggi. Munculnya kesadaran (awareness) bahwa bangsa ini memerlukan perguruan tinggi yang dapat diandalkan dalam kompetisi global merupakan faktor penting dalam memulai suatu perubahan. Dalam menjawab pertanyaan mengapa perguruan tinggi di negara ini belum dapat menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di pasar tenaga kerja global dan bagaimanapengalamannya, maka dapatlah dikatakan bahwa secara umum persoalan ini berkaitan dengan kompetensi lulusan. Proses belajar yang berlangsung di kampus seharusnya memberikan jaminan mutu pada ketiga faktor kompetensi knowledge, skill, dan attitude. Ketidakmampuan bersaing ini disebabkan adanya kesenjangan antara kualifikasi yang diperlukan dengan kompetensi lulusan. Perguruan tinggi harus menyiapkan lingkungan belajar yang kondusif untuk terbentuknya kompetensi tersebut, perguruan tinggi memerlukan exposure international, jaringan kerja sama dengan universitas di luar negeri, pertukaran mahasiswa, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

Pencapaian academic excellence dalam artian di atas mejadi panduan dalam pengembangan manajemen mutu dan upaya peningkatan mutu menjadi tanggung jawab dari setiap anggota civitas akademika. Untuk mewujudkan kebijakan mutu ini perlu dikembangkan sistem manajemen mutu yang bertujuan memastikan konsistensi mutu dalam layanan jasa pendidikan serta mengevaluasi dan meningkatkan pencapaian sasaran mutu. Daya saing bangsa dapat dibangun dengan baik bila ditopang perguruan tinggi yang bagus dan kuat, yang mampu melahirkan orang terdidik, mahir, dan berkeahlian. Dalam konteks globalisasi, perguruan tinggi memainkan peran sentral dalam membangun masyarakat berpengetahuan, tercermin pada munculnya lapisan kelas menengah terdidik dan kaum profesional yang menjadi kekuatan penentu kemajuan ekonomi. Mereka merupakan elemen pokok dalam menyokong ekonomi berbasis pengetahuan. Ilmu pengetahuan menjadi investasi modal yang amat penting, sekaligus faktor determinan dalam proses produksi. Sebab, aktivitas ekonomi lebih bersifat padat pengetahuan sehingga dukungan sumber daya alam menjadi berkurang (Latham 2001). Selain itu, teknologi komunikasi dan informasi berperan dominan mendukung aktivitas bisnis dan perdagangan global.

 

 

Gambar 4. Data mahasiswa asing di Indonesia

 

Dengan demikian, peran perguruan tinggi menjadi penting sebagai basis produksi, diseminasi, dan aplikasi ilmu pengetahuan serta inovasi teknologi. perguruan tinggi berperan strategis dalam konteks pembangunan kapasitas dan peningkatan keahlian, kompetensi profesional, dan kemahiran teknikal. Bangsa yang mempunyai banyak manusia terdidik, berpengetahuan, dan menguasai teknologi pasti memiliki daya saing kuat dalam kompetisi ekonomi global Daya saing nasional amat ditentukan oleh kemampuan bangsa bersangkutan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, melakukan inovasi teknologi, dan mendorong program riset dan pengembangan untuk melahirkan berbagai penemuan baru.

 

Gambar 5. Peringkat perguruan tinggi di kelas international

 

Untuk itu, hubungan segi tiga antara ilmu pengetahuan, dunia industri, dan universitas (triple helix of knowledge-industry-university) menjadi tak terelakkan. Selain menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi, Perguruan tinggi menyediakan tenaga profesional yang diperlukan dunia industri. Perguruan tinggi juga dapat melakukan kegiatan litbang yang memberi manfaat bagi perkembangan industri dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan dunia industri dapat mengalokasikan dana untuk menopang kegiatan litbang di universitas. Sangat jelas, dinamika hubungan segi tiga ini akan memberi sumbangan besar pada peningkatan produktivitas nasional yang pada gilirannya meningkatkan daya saing bangsa. Perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi tulang punggung yang utama transformasi sosial dan peningkatan daya saing bangsa dengan membentuk manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni, dan berkualitas secara spiritual, emosional, intelektual, dan fisik serta memiliki profesionalitas dan kemampuan kepemimpinan serta jiwa kewirausahaan untuk mendukung peningkatan daya saing bangsa. Kerja akademik ini merupakan kewajiban sekaligus kehormatan bagi universitas.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

[1]. Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045. Jakarta. 2017.

[2]. Prosiding Seminar Nasional. 2015. Peran Ristek dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa di Era

[3]. Global. Jakarta. 2015.

[4]. Surat Kabar Harian Kompas, tanggal 23 dan tanggal 25 November 2015

[5]. Rencana Strategis Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Tahun 2015-2019, Jakarta: Kemenristekdikti

[6]. Bacharuddin Jusuf Habibi. 2014. Pendidikan dan daya saing Bangsa. Pidato Kunci pada Konvensi Pendidikan PGRI. Jakarta 18 Pebruari 2014

[7]. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasca Amandemen. Jakarta.

[8]. Sekretariat Negara 2012.

[9]. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

[10].                        Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

[11].                        Badan Pusat Statisitik Nasional, https://www.bps.go.id/ di akses tanggal 14 Januari 2022

[12].                        https://twitter.com/brin_indonesia/status/861551279222308865 di akses tanggal 14 Januari 2022

[13].                         https://jatimtimes.com/baca/216506/20200612/144600/8-kampus-terbaik-di-indonesia-tahun-2021-versi-qs-world-university-ranking-mana-saja  di akses tanggal 14 Januari 2022

[14].                        Fachrudin, Y. (2020). MODEL PEMBINAAN KARAKTER SANTRI DALAM PENDIDIKAN PESANTREN. Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam, 3(3), 53-68.

[15].                        Qosim, N., & Hamid, A. (2020). Mahasiswa Milenial Berkarakter Santri (Studi Institutut Zainaul Hasan Genggong Probolinggo). Fenomena, 19(1), 64-72.

[16].                        http://abuddin.lec.uinjkt.ac.id/articles/pendidikan-karakter-untuk-menjawab-tantangan-abad-ke-21-1 di akses pada tanggal 18 Januari 2022

[17].                        http://new.widyamataram.ac.id/content/news/menghadapi-era-society-50-perguruan-tinggi-harus-ambil-peran#.YedrCPh8rIU di akses tanggal 19 Januari 2022

[18].                        https://dcs.binus.ac.id/2020/07/21/mengawali-new-normal-3-aspek-penting-yang-akan-berubah-di-new-society/ di akses tanggal 19 Januari 2022

[19].                        https://www.republika.co.id/berita/qtfskp349/bagian-dari-perguruan-tinggi-dosen-wajib-profesional-part1 di akses tanggal 19 Januari 2022

[20].                        Nashori, F. (2011). Kekuatan karakter santri. Millah: Jurnal Studi Agama, 11(1), 203-219.